Hari kedua di ujung barat Jawa diisi dengan kegiatan wisata sambil menapaki sejarah. Pagi itu sunrise di Pulau Peucang tidak terlalu bikin gereget namun membuat nyaman untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Udara paginya sejuk dan sedikit kabut tipis terlihat mengambang di udara. Airnya tenang dan putih bening, tidak berwarna toska ataupun biru laut. Ini juga yang mengherankan, warna air laut di sini bisa berubah-ubah. Bahkan jika hujan deras setelahnya air bisa berubah warna menjadi keruh agak kecokelatan. Selepas sarapan di kapal, seharusnya saya beserta rombongan menyeberang ke Pulau Handeuleum untuk canoeing di Sungai Cigenter. Namun dikarenakan kondisi canoe yang rusak akibat diterjang tsunami Desember 2018 lalu, akhirnya kami menyeberang dan menyambangi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Hal yang kami lakukan setibanya di sana yaitu trekking dengan tujuan utama Tanjung Layar, titik nol kilometer Pulau Jawa. Taman Nasional Ujung Kulon Untuk sampai ke Tanj...