Sunday, 15 December 2013

Merindu di Ujung Senja

Ada rindu yang menjajah pikiran dan memperkosa hati. Dia bahkan memonopoli otak dan perasaan. Apapun yang kulakukan, dia selalu membuntuti. Enggan enyah sedetik pun. Terus merongrong perhatian. Tapi aku rela. Tapi aku suka. Apalagi setiap kali matahari kembali ke peraduannya. Kemudian langit mulai bersemu jingga. Ditambah kerlip lampu kota mencumbu keindahannya. Dengan kastil merayu ingin menjamahnya. Dan sungai mendekap bayangannya. Disaksikan jembatan tua yang menjadi tempatku berpijak, untuk merindu di ujung senja.

Hai, Rindu. Aku tidak tau harus senang atau sedih dengan kamu yang menemaniku di sini. Tapi aku bersyukur bisa mengenalmu sejauh ini. Setidaknya karenamu, aku sadar akan satu hal. Betapa aku menyayangi dan membutuhkan dia. Iya, dia. Kamu tau itu dengan pasti. Tugasmu memang unik, Rindu. Mendesain perasaan menjadi sedemikian rupa. Hingga aku ingin berlari ribuan mil demi melihatnya. Hingga aku ingin memeluk suaranya. Rindu, aku ingin bertemu dengannya. Aku mencintainya.

Heidelberg, 15 Desember 2013

-Filia-

Sunday, 22 September 2013

Celoteh Orang Biasa tentang Mimpinya

Menjejakkan kaki di Jerman sudah merupakan impian lawas yang saya punya. Sudah sedari duduk di bangku SMA ingin sekali menyambangi negara ini. Ah, kayaknya enggak mungkin deh bisa ke sana, butuh biaya enggak sedikit. Begitulah pikiran pesimis saya waktu itu. Tapi karena terlalu suka dengan Jerman, akhirnya saya menjebloskan diri ke Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Pendidikan Indonesia. Waktu itu sih mikirnya karena suka Jerman saja, belum mikir masuk jurusan ini bisa pergi ke sana. Well, enggak taunya di hari ke sekian masa orientasi saya dikenalkan dengan beasiswa yang ada di jurusan ini. Tentu saja beasiswa yang bisa memboyong mahasiswanya ke negera yang dikenal dengan sejarah nazinya itu. Di antaranya ada beasiswa yang bernama Baden-Württemberg-Stipendium dan ada beasiswa Sommerkurs (kursus musim panas) dari German Academic Exchange Service (Deutscher Akademischer Austauschdienst atau disingkat DAAD). Dan si jiwa bagian pesimis ini kembali berbisik usil, kayaknya saya enggak mungkin bisa dapat beasiswa itu.

But hey! Saya termasuk salah satu mahasiswa yang beruntung itu, berhasil menjadi salah satu peserta pertukaran mahasiswa dan mendapatkan Baden-Württemberg-Stipendium untuk mencicipi Wintersemester (semester musim dingin) selama satu semester di salah satu kota paling romantis di Eropa, di Heidelberg. Lebih beruntung lagi, saya pergi ke sana bersama seorang sahabat yang sudah nempel banget dari awal kuliah, dari semester satu. Sebut saja dia "Mbak" (Maaf, Mbak, namanya saya samarkan, ini dunia cyber yang keamanannya enggak terduga). Tuhan memang menyayangi saya, Dia selalu memberi "lebih" apa yang saya minta. Tentu saja enggak lepas dari usaha dan doa, terutama doa orang tua dan orang-orang terdekat, juga dukungan mereka.

Kalau sekarang banyak orang yang bertanya kenapa saya bisa dapat beasiswa ini, saya enggak rela kalau dibilang karena keberuntungan, kebetulan, apalagi dekat dengan dosen. Please, dosen hanya menjadi juri di seleksi awal saja, selanjutnya ya pihak Yayasan Baden-Württemberg yang menentukan siapa dan berapa orang yang berhak ke sana. Bahkan pihak jurusan (katakanlah dosen) taunya ya dari saya dan Mbak kalau kami yang dapat. Iya saya tau, masih banyak mahasiswa yang IPK-nya jauh lebih tinggi dan jauh lebih cerdas dibanding kami. Namun satu hal yang terlupakan, rezeki enggak akan pernah tertukar dan Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk hambanya. Kerasnya usaha dan amalan seseorang juga menentukan.

Mungkin orang melihat saya sebagai mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan organisasi himpunan atau sibuk dengan kegiatan paduan suara jurusan sampai lupa urusan kuliah. Di tambah saya juga orang yang suka banget main, kuliner, dan travelling. Tapi enggak begitu, kawan. Tujuan utama saya ke Kota Kembang itu untuk kuliah. Sesibuk apapun saya, ya kuliah tetap nomor satu. Hanya saja, mungkin saya bukan tipe orang yang rajin belajar di tempat terbuka. Prinsip saya sih ya, kalau ada tugas mari segera kerjakan, supaya bisa cepat santai, bisa mengurus kesibukan atau kegiatan lain dan bahkan main. Emang susah mengatur waktu, apalagi mengatur konsentrasi. Ada kalanya stres. Tapi di situ asiknya, kerasa banget kalau waktu yang dilewatkan itu enggak monoton. Banyak pengalaman, banyak teman, banyak informasi juga yang didapat.

Kita enggak harus terlihat cerdas untuk bisa mendapat beasiswa ke luar negeri, enggak harus terlihat seperti aktivis untuk bisa aktif berorganisasi, enggak harus melulu sibuk bergaul untuk bisa mengikuti alur pergaulan. Semua ada porsinya. Kerja keras, itu harus. Punya tekad kuat, itu syarat utama. Hidup itu harus punya tujuan, harus punya cita-cita, harus punya impian. Dan yang paling penting, kita harus punya keberanian dan mau berusaha untuk mencapai semua itu. Singkirkan pesimis, harus optimis, tapi awas jangan sampai jadi orang ambisius yang lupa caranya bersyukur.

-Filia-

Monday, 12 August 2013

Saya dan Kisah Setengah Tahun Terakhir

Sudah lama meninggalkan blog yang saya buat sejak duduk di bangku SMA ini. Bukan meninggalkan sebenarnya, mengabaikan lebih tepatya. Postingan kali ini pun merupakan postingan kedua di tahun 2013. Miris sekali saya sekarang jadi jarang menulis. Dibilang sibuk sebenarnya masih banyak waktu luang yang tercecer. Malas. Itu aja sih. Hahaha...

Entah kenapa hari ini, saat ini, di tempat saya berada, rindu menulis. Setengah tahun kemarin memang benar sibuk, masih sibuk urusan kampus dengan segudang kepanitiaan ini-itu, ditambah berburu beasiswa ke luar negeri juga. Alhamdulillah fisik sempat down ditambah pesimisme muncul tapi akhirnya demisioner juga, plus beasiswanya nyangkut.

Demisioner ya... Iya, demisioner, sudah enggak menjabat sebagai apa-apa lagi di organisasi himpunan jurusan. Artinya, sekarang saya menjadi rakyat biasa di kampus. Tapi tanggung jawabnya masih tetap ada, sadar diri aja buat berbagi pengalaman untuk kepengurusan yang dipegang adik tingkat saat ini. Enggak jarang juga masih suka ditanya ini-itu seputar program kerja. Saya sih senang ditanya, berarti masih bisa berbagi. Mudah-mudahan ada hal positif yang bisa diambil si penanya dan kawan-kawan.

Beasiswa ya... Iya, beasiswa, yang banyak orang pikirkan pasti belajar gratis di suatu tempat. Betul, enggak salah. Mimpi yang saya pupuk sejak SMA untuk belajar ke luar negeri akan segera jadi nyata, ditambah gratis dan itu di negara yang bahasa juga budayanya saya cintai. Tapi saya masih lebih cinta Indonesia pastinya. Sekarang pun masih sibuk mengurus persiapan keberangkatan buat belajar di sana. Next time, kalau saya tidak lupa, saya ceritakan bagaimana bisa dapat beasiswa ini.

Selain itu, dua bulan belakangan ini juga saya dapat keluarga baru. Keluarga Cihanjuang Berjuang namanya. Itu saya dapatkan dari hasil Kuliah Kerja Nya(n)ta(i) atau disingkat KKN. Personelnya ada 12 orang termasuk saya di dalamnya. KKN ini berlangsung dari 24 Juni sampai akhir Juli kemarin. Banyak kisah di sana, dari yang ceria, sedih, bikin marah, galau, lucu, sampai kisah kasih pun ada. Enggak lengkap, karena untungnya enggak ada kisah horor.

Begitulah tiga hal terbesar yang mewarnai hidup saya selama setengah tahun terakhir. Sebenarnya masih banyak lagi. Banyak hal yang saya dapatkan di tahun 2013 ini, banyak doa yang didengar dan dikabulkan, bahkan Tuhan memberi lebih di beberapa doa yang saya pilin ke langit. Alhamdulillah...

-Filia-

 


Designed by Filia