Tuesday, 12 April 2011

Jatuh di Lubang yang Sama

Hidup itu hanya satu kali. Ya, aku tahu itu secara pasti! Namun aku begitu bodoh karena menyia-nyiakan hidupku. Menyia-nyiakan waktuku. Menyia-nyiakan banyak kesempatan. Bahkan ketika kesempatan kedua datang, aku masih sibuk dan terlena dengan tipu daya kesenangan dunia fana.

Bayangan diri pada cermin pun mengejekku. Mengolok-olok aku yang bahkan tidak lebih pintar dari keledai. Kemarin, kemarin lusa, pekan lalu, bulan lalu dan beberapa bulan yang lalu, aku selalu terjatuh setiap kali mencoba mendaki gunung. Gunung yang kudaki selalu sama. Dan aku selalu terjatuh ke lubang yang sama di gunung itu. Selalu kuulangi. Mengulangi mendaki gunung itu, mengulangi jatuh di lubang itu. Aku menyadari kebodohan yang kulakukan, yang membuatku terjatuh. Tapi ironisnya aku tak pernah berupaya menghindari lubang itu dan terus menerus terjerembap ke dalamnya.

Apa yang ada di dalam sana? Ya, tipu daya kesenangan dunia fana. Indah, menyenangkan. Sesudahnya, aku akan menyesal karena terjatuh ke lubang itu lagi dan sadar telah kehilangan banyak hal. Seperti saat ini. Tapi mulai kini, aku berjanji untuk tidak terjatuh di lubang itu lagi. Aku bertekad untuk mencapai puncak gunung itu, tanpa terjatuh ke dalam lubang mana pun. Aku harus bisa menaklukkan gunung itu dan kemudian mendaki gunung yang lain. Mencapai puncak gunung yang lain.

Aku tidak mau terlena dalam kesenangan sementara. Aku tidak mau terjatuh lagi. Aku tidak mau bayanganku mengejek atau mengolok-olokku lagi. Besok, besok lusa, pekan depan, bulan depan, beberapa bulan berikutnya dan beberapa tahun berikutnya, aku hanya ingin terus mendaki gunung, dari gunung yang satu ke gunung yang lain. Aku hanya ingin mencapai puncak. Meraih harapan. Meraih impian. Mewujudkannya menjadi nyata. Hingga aku terjatuh ke lubang menuju kehidupan abadi. Dan beristirahat di sana untuk selamanya.

- Filia -

Wednesday, 6 April 2011

Hidup Cinta

Menjejak di atas tanah, berputar membentuk angin
Kuat namun dingin, halus namun keras
Tubuhku dicambuknya
Bibirku mencicit mengikuti alunan nada
Hatiku berontak, "Di depanmu ada pantai, mengapa kau berbelok ke gurun?"
Aku tidak tahu!
Ingar bingar kini menjauh
Egoku perlahan luruh bersama air mata
Terlambat, badai gurun telah siaga
Enyahkan aku!
Terkikislah asa!
Biar terkubur di bawah pasir
Sesal menemani, menggamit luka di sampingnya
Perih aku memilih cinta, dengan hidup melekatkan paksa
Seperti tertatih ke tempat yang tak ingin kujamah
Hidup ini memang pilihan hati
Namun cinta, dia yang akan memilih hati

- Filia -

 


Designed by Filia