Saturday, 31 December 2011

Saya, Blog dan Bahasa

Hari ini hari terakhir di tahun 2011. Tepatnya Sabtu, 31 Desember 2011. Seperti yang teman-teman blogger lihat, blog ini udah lama enggak diurus oleh pemiliknya. Alasannya sibuk kuliah, padahal tugas enggak banyak dan jadwal kuliah juga enggak padat. Mungkin lagi asik punya kegiatan baru di kampus. Jadi panitia ini itu dan mengurus mahasiswa baru 2011 yang masih polos seperti saya tahun lalu saat pertama kali menjadi mahasiswa. Maklum, senang karena baru punya adik tingkat dan berarti enggak jadi ‘anak bungsu‘ lagi di kampus. Akhirnya terjerumus ke dalam himpunan mahasiswa, organisasi (katanya) atau apalah itu namanya.

Lalu, kenapa saya tiba-tiba menulis di blog pada akhir tahun pula? Saya juga enggak tahu. Ada sesuatu yang menggerakkan jemari saya untuk kembali menulis di blog. Entah apa.

Rasanya cara menulis saya juga udah beda. Enggak tau kenapa. Bisa jadi karena udah lama enggak nulis atau mungkin karena pengaruh umur. Ditambah lagi blog saya juga makin ke sini makin beda. Apa bedanya? Bahasa. Dari awal blog ini konsepnya harus pake bahasa Indonesia karena saya cinta Indonesia. Tapi setelah diperhatikan dari awal posting sampai sekarang, ternyata banyak terkontaminasi bahasa asing. Mulai dari bahasa Inggris, bahasa Jerman sampai bahasa Korea. Untung saya belum mulai menyalurkan minat untuk belajar bahasa Jepang dan bahasa Perancis.

Ngomongin bahasa, saya emang suka belajar bahasa. Sampai bahasa isyarat pun ingin bisa. Kalau bisa sih aneka bahasa daerah Indonesia juga ingin bisa, enggak cukup kalau bahasa Sunda dan bahasa Jawa (pas-pasan) aja.

Balik lagi ke blog yang udah terkontaminasi bahasa asing. Saya sadar bahasa Indonesia yang digunakan untuk blog ini pun bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD. Emang sengaja dari awal udah dibuat begitu, supaya enggak terlalu baku dan kaku. Tapi untuk memasukkan bahasa asing ke dalam blog ini benar-benar diluar konsep.

Semula saya pikir cukup nama dan tema blog aja yang ada unsur asingnya. Nama diambil dari bahasa Jerman sedangkan tema diambil dari warna bendera Jerman dan bendera Indonesia tentu saja. Dengan maksud mengagumi negara Jerman tapi tetap mencintai Indonesia. Tapi lama-kelamaan di dalam tulisan bahkan judul tulisan pun ada yang menggunakan bahasa Jerman. Kalau bahasa Inggris masih saya anggap wajar, karena emang bahasa internasional dan pengaruh globalisasi juga (bukan westernisasi ya). Tapi ya udahlah, bahasa Jerman menyelinap tulisan saya pun enggak apa-apa. Itung-itung memberi sedikit pengetahuan bahasa ke teman-teman blogger (yang baca tulisan saya dan enggak kenal bahasa Jerman tentu saja). Yang penting masih bisa dimengerti.

Berhubung ini tepat akhir tahun, boleh dong berbagi harapan buat blog ini untuk tahun 2012. Harapannya banyak tapi yang penting adalah semoga pemilik blog ini bisa terus memelihara blognya, jangan sampai terbengkalai seperti satu semester ke belakang. Ich schreibe gern irgendetwas und ich liebe die Sprache (saya suka menulis apapun dan saya mencintai bahasa).

Frohes neues Jahr!
Happy new year!
Selamat tahun baru 2012!

- Filia -

Friday, 1 July 2011

Ein kleines Konzert


Kamis, 30 Juni 2011 kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu. Sebuah mini konser dari Deutschstudentenchor atau disingkat 'DSC' (Paduan Suara Mahasiswa Bahasa Jerman UPI) bertajuk Ein kleines Konzert: Deutsche Volkslieder und die Werke von Komponisten (A Mini Concert: German Folk Songs and The Works from Composser) yang udah dirancang dari jauh-jauh hari terselenggara juga. Latihan demi latihan yang filia dan temen-temen DSC jalanin akhirnya terbayar lunas.

Selama persiapan konser banyak kendala pastinya, mulai dari awal-awal latihan banyak anggota yang bolos dan males-malesan, sampe beberapa hari menjelang konser banyak yang tumbang kondisi fisiknya. Tapi semua itu enggak bikin semangat anggota DSC berkurang.


Foto bersama setelah konser

Konser ini merupakan konser pertama DSC setelah berdiri hampir dua tahun. Cukup sederhana tapi memberi kesan 'Jerman banget' (kata penonton sih gitu, hehehe). Konser ini menampilkan 18 lagu klasik dan lagu rakyat Jerman dari beberapa komposer ternama seperti Mozart, Beethoven, Schubert, Rheinberger, Haydn, Johann Strauss dan komposer ternama lainnya.

Mungkin bagi yang enggak suka musik klasik kurang mengenal nama-nama tadi. Jujur, filia sendiri juga awalnya cuma kenal sedikit komposer lagu-lagu klasik. Tapi setelah gabung dengan DSC jadi kenal lebih banyak lagi. Belum genap satu tahun jadi anggota padus Jurusan Bahasa Jerman ini, tapi udah banyak ilmu yang filia dapat. Bukan cuma pengetahuan tentang lagu klasik atau lagu rakyat Jerman aja, tapi juga cara menyanyikan lagu klasik, latihan vokal dan memperlancar Aussprache. Nambah temen juga nambah pengalaman.

Detik-detik menjelang konser (backstage)

Ah ya, ternyata menyanyikan lagu klasik itu susah juga loh sodara-sodara, beda dengan cara menyanyikan lagu pop. Salah-salah malah kadang bisa kedengeran kayak lagi ngedangdut. Lebih parah lagi kalau kata Om Dian (pelatih dan pendiri DSC yang juga mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UPI) kedengeran 'kampung'. Belum lagi ditambah susahnya ngucapin kata demi kata dalam bahasa Jerman. Tapi justru itu tantangannya. Hidup kan enggak asik kalau enggak ada tantangan (sombooooong hahaha).

Balik lagi ke topik awal: Mini Konser DSC. Beberapa kesulitan yang sebagian tadi filia jelasin akhirnya teratasi juga dengan latihan secara konsisten. Hasilnya konser DSC berjalan lancar. Sukses! Dapat standing applause dan banyak yang bilang wunderbar. Alhamdulillah.. Gott sei Dank! Mungkin emang enggak seratus persen sempurna. Niemand ist vollkommen (Nobody is perfect), tapi yang jelas kita udah berusaha seoptimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik.

Terima kasih banyak buat semua pihak yang udah mendukung dan membantu terealisasinya ein kleines Konzert ini, terutama untuk seluruh panitia dan dua pianis (Teh Tiur dan Anis) dari Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI yang udah rela mengorbankan waktu liburnya. Vielen Dank!

- Filia -

Tuesday, 12 April 2011

Jatuh di Lubang yang Sama

Hidup itu hanya satu kali. Ya, aku tahu itu secara pasti! Namun aku begitu bodoh karena menyia-nyiakan hidupku. Menyia-nyiakan waktuku. Menyia-nyiakan banyak kesempatan. Bahkan ketika kesempatan kedua datang, aku masih sibuk dan terlena dengan tipu daya kesenangan dunia fana.

Bayangan diri pada cermin pun mengejekku. Mengolok-olok aku yang bahkan tidak lebih pintar dari keledai. Kemarin, kemarin lusa, pekan lalu, bulan lalu dan beberapa bulan yang lalu, aku selalu terjatuh setiap kali mencoba mendaki gunung. Gunung yang kudaki selalu sama. Dan aku selalu terjatuh ke lubang yang sama di gunung itu. Selalu kuulangi. Mengulangi mendaki gunung itu, mengulangi jatuh di lubang itu. Aku menyadari kebodohan yang kulakukan, yang membuatku terjatuh. Tapi ironisnya aku tak pernah berupaya menghindari lubang itu dan terus menerus terjerembap ke dalamnya.

Apa yang ada di dalam sana? Ya, tipu daya kesenangan dunia fana. Indah, menyenangkan. Sesudahnya, aku akan menyesal karena terjatuh ke lubang itu lagi dan sadar telah kehilangan banyak hal. Seperti saat ini. Tapi mulai kini, aku berjanji untuk tidak terjatuh di lubang itu lagi. Aku bertekad untuk mencapai puncak gunung itu, tanpa terjatuh ke dalam lubang mana pun. Aku harus bisa menaklukkan gunung itu dan kemudian mendaki gunung yang lain. Mencapai puncak gunung yang lain.

Aku tidak mau terlena dalam kesenangan sementara. Aku tidak mau terjatuh lagi. Aku tidak mau bayanganku mengejek atau mengolok-olokku lagi. Besok, besok lusa, pekan depan, bulan depan, beberapa bulan berikutnya dan beberapa tahun berikutnya, aku hanya ingin terus mendaki gunung, dari gunung yang satu ke gunung yang lain. Aku hanya ingin mencapai puncak. Meraih harapan. Meraih impian. Mewujudkannya menjadi nyata. Hingga aku terjatuh ke lubang menuju kehidupan abadi. Dan beristirahat di sana untuk selamanya.

- Filia -

Wednesday, 6 April 2011

Hidup Cinta

Menjejak di atas tanah, berputar membentuk angin
Kuat namun dingin, halus namun keras
Tubuhku dicambuknya
Bibirku mencicit mengikuti alunan nada
Hatiku berontak, "Di depanmu ada pantai, mengapa kau berbelok ke gurun?"
Aku tidak tahu!
Ingar bingar kini menjauh
Egoku perlahan luruh bersama air mata
Terlambat, badai gurun telah siaga
Enyahkan aku!
Terkikislah asa!
Biar terkubur di bawah pasir
Sesal menemani, menggamit luka di sampingnya
Perih aku memilih cinta, dengan hidup melekatkan paksa
Seperti tertatih ke tempat yang tak ingin kujamah
Hidup ini memang pilihan hati
Namun cinta, dia yang akan memilih hati

- Filia -

Monday, 31 January 2011

Memasyarakatkan Mahasiswa



Enggak pernah terpikir sedikitpun untuk terjun langsung menjadi aktris untuk menjalani kehidupan di sebuah wilayah terpencil sampai akhirnya filia mengikuti sebuah kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) di Himpunan Jurusan (HIMA) Pendidikan Bahasa Jerman atau yang lebih dikenal dengan Deutschstudentenverban (DSV) pada 23-28 Januari 2011.

Ada sesuatu yang menggelitik hati saat pertama kali mendengar P2M 2011 diadakan di Kampung Bayongbong, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Bandung.
FYI, lokasinya ada di daerah Ciwidey yang dinginnya enggak bisa dibayangkan kalau belum menginjakkan kaki di sana. Awalnya sempat ragu buat ikutan, padahal udah terlanjur masuk ke dalam kepanitiaan inti sebagai HUMAS. Tapi setelah ngasih pengertian panjang lebar ke orang tua akhirnya memutuskan liburan semester ganjil ini enggak pulang ke Serang dan bermaksud mengabdikan diri pada masyarakat.

kebun teh yang mengelilingi desa bayongbong

Jangan dikira P2M itu kegiatan liburan seperti hiking, di sana kita dituntut untuk lebih dari itu. Pertama kali menginjakkan kaki di Rancabali hal yang terpikir adalah hijau, dingin, asri dan masih kental unsur pedesaannya. Mungkin karena lokasinya dikelilingi bukit-bukit rendah dan hamparan kebun teh, tidak heran mata pencaharian warga di sini adalah petani perkebunan teh. Jalanan sudah diaspal, menunjukkan bahwa kawasan ini sering dilalui wisatawan. Listrik juga sudah ada, yang disayangkan adalah tidak adanya lampu penerang jalan, sehingga ketika malam tiba suasananya menjadi horror dan gelap gulita. Cahaya hanya ada dari lampu-lampu rumah warga yang seadanya dan itupun kalau me
nurut filia enggak akan bisa menerangi pejalan kaki. Alhasil harus selalu membawa senter kalau malam. Selain itu, enggak jarang juga kejadian seperti bertemu makhluk halus sudah menjadi hal lumrah di sini.

Disambut oleh Bapak Sekdes di balai desa kemudian setelah itu tibalah kita di rumah inap di kampung Bayongbong. Kondisi rumahnya tidak kumuh namun yang mencengangkan adalah antara rumah yang satu dengan lainnya hanya disekat dengan papan triplek atau bilik bambu. Lantainya dari semen dan beralaskan karpet plastik. Tapi masing-m
asing rumah memiliki halaman yang rapih dengan dibatasi pagar seadanya yang terbuat dari batang kayu kecil-kecil. Halamannya dipenuhi dengan tanaman cabai, tomat dan sayuran. Dapurnya masih menggunakan tungku dan kamar mandinya tidak memiliki WC. Namun ada sebagian rumah yang sudah memiliki WC pribadi sehingga tidak perlu ke WC umum untuk menunaikan panggilan alam. Untuk air, sepertinya langsung dialirkan dari sumbernya dengan menggunakan paralon.

keadaan rumah warga

Hari pertama tiba di sana enggak begitu banyak kegiatan yang dilakukan. Hanya diisi kegiatan perkenalan dengan warga kampung Bayongbong serta mengajar mengaji anak-anak kecil dan remaja selepas maghrib. Malam pertama pun masih belum bisa beradaptasi dengan udara yang dingin menusuk tulang. Apalagi ketika harus bangun pukul 03.00 dan harus mandi di kamar mandi umum, di mana tembok kamar mandinya hanya setinggi dada dan beratapkan seng. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi filia dan teman-teman yang mandi di alam terbuka ditemani dinginnya udara di daerah perkebunan teh bercampur air yang dinginnya seperti baru dikeluarkan dari kulkas ditambah belaian lembut angin dini hari. Bukan lagi menggigil, tapi rasanya kaki mulai kram, gigi bergemeletukkan dan tubuh bergetar hebat. Tapi anehnya filia malah mengguyur tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pasrah setelah awalnya sempat ragu dan berpikir untuk mengajar ke sekolah tanpa mandi hehehehe...

Kegiatan utama mahasiswa angkatan 2010 setiap harinya adalah mengajar murid Sekolah Dasar (SD) pada pagi hari dan mengajar mengaji selepas maghrib. Siang hingga sorenya kegiatan beralih dari yang berhubungan dengan pendidikan ke kegiatan sosial. Mulai dari membereskan masjid secara keseluruhan, membuat sebuah pondok bacaan untuk anak-anak di lingkungan kampung Bayongbong hingga mengadakan bazaar pakaian dan sembako murah. Bukan, kalau murah kurang tepat. Lebih tepatnya adalah amat sangat murah.

Dari berbagai kegiatan tersebut yang paling filia nikmati adalah mengajar murid SD. Jujur, sebelum ini enggak pernah terpikirkan sedikitpun untuk mau mengajar di tingkat dasar. Kenapa? Karena filia pernah merasakan masa-masa SD yang mana muridnya selalu membuat guru kerepotan. Tapi pikiran dangkal seperti itu langsung berubah hingga merasakan bagaimana rasanya menjadi guru SD. Mereka, murid-muridnya, masih lugu. Filia kebagian mengajar dengan seorang teman yang untungnya teman sekelas di kampus. Jadi enggak susah buat berkolaborasi. Awal mengajar ada rasa canggung yang menyergap. Tapi begitu merasakan hangatnya sambutan dari murid-murid lugu ini, kami berdua langsung bisa menguasai kelas. Ehm, sebenarnya enggak tepat juga dibilang
'kami'. Karena awalnya filia sempet speechless dan enggak tau harus gimana. Tapi untungnya teman yang satu ini tau bagaimana mencairkan suasana menjadi lebih santai.

suasana KBM

Selanjutnya, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah kegiatan yang paling menarik minat filia di sini. Jangan dikira kami mengajar bahasa jerman sesuai dengan jurusan yang diambil. Bukan, bukan. Kami mengajar materi SD sebagai mana mestinya. Hanya saja, 70% dari jam belajar digunakan untuk menciptakan permainan di dalam kelas, memberi motivasi, menyadarkan mereka mengenai pentingnya kebersihan dan sedikit selipan memperkenalkan bahasa jerman seperti halnya memperkenalkan angka, salam serta lagu anak-anak berbahasa jerman. Kenapa belajarnya hanya 30%? Karena mereka di sini butuh motivasi untuk melanjutkan sekolah. Banyak dari warga di sini yang enggak bisa mencicipi bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bukan faktor ekonomi masalah utamanya, tapi faktor motivasi tadi. Mereka kurang termotivasi untuk meraih gelar pendidikan yang lebih tinggi. Selepas SD mereka malah membangun rumah tangga bukannya melanjutkan sekolah. Sangat disayangkan jika murid yang kami ajar nantinya demikian, padahal sebenarnya mereka pintar-pintar dan banyak memiliki cita-cita. Ada yang ingin menjadi guru, tentara, pramugari, peternak, polisi, dokter, pemain sepak bola sekelas Cristiano Ronaldo dan masih banyak lagi.

Segala bentuk pengajaran, permainan maupun motivasi spontan kami lakukan tanpa persiapan. Gimana ceritanya mau ngadain persiapan, kalau baru tau siapa partner mengajar dan kelas berapa yang akan diajar aja semalam sebelum mengajar. Tapi dari segala bentuk spontanitas itulah akhirnya filia bisa mengerti bahwa yang terpenting dari seorang guru adalah bukan bagaimana dia menguasai materi, melainkan menguasai kelas. Jika seorang guru telah berhasil menguasai kelas, maka materi akan dengan sendirinya mengalir dan diserap oleh para muridnya. Namun sebaliknya, jika seorang guru hanya menguasai materi dan enggak bisa menguasai kelas maka yang terjadi adalah muridnya akan merasa bosan dengan apa yang diajarkan gurunya dan perhatian mereka akan beralih pada hal lain. Dengan kata lain, murid enggak bisa menyerap materi sehebat apapun guru itu menguasai materi.

Kebetulan filia kebagian mengajar murid kelas 5. Bisa dibayangkan materi kelas 5 bukan lagi pengurangan atau penambahan. Mengingat filia punya adik yang tepat saat ini duduk di bangku kelas 5 SD. Seringnya ditanya berbagai macam hal mengenai tugas si adik ini, ada untungnya juga jadi lumayan tau materi apa yang sedang dipelajari murid kelas 5. Bukan hanya itu, seringnya menjemput adik ke sekolah saat libur kuliah dan harus menunggu di depan kelasnya karena KBM belum selesai juga memberi sedikit bayangan bagaimana caranya mengajar murid kelas 5 SD. Tapi tempat berkata lain. Lain di kampung, lain di kota. Murid kelas 5 SD di kampung dengan di kota ternyata berbeda. Mereka, anak-anak di Bayongbong ini, masih terbilang lugu untuk anak seusianya. Beda dengan adik filia yang ada di Serang, yang udah mengenal apa itu internet sehingga media belajar maupun bermain telah bergantung pada hal ini. Maka di sini filia harus mengajar dengan lebih lembut dan pelan, enggak bisa menyamakan mereka dengan adik sendiri yang padahal usianya sama. Adik filia udah bisa diajak diskusi masalah politik yang lumayan berat, tapi anak-anak di sini enggak bisa. Pola pikir mereka berbeda. Mereka terlalu lugu dan masih sangat 'anak-anak'.

Namun mereka di sini juga sudah mengenal alat komunikasi bernama
handphone (hp). So, enggak aneh mereka minta nomor hp guru-gurunya ini supaya tetap bisa berkomunikasi saat kami udah enggak ada di sana. Sampai saat ini, mereka masih suka meng-sms setiap pagi dan mengucapkan 'Guten Mogen'. Enggak jarang juga saat siang, sore atau malam harinya mereka meng-sms, "Kak, lagi ngapain?" kemudian mereka curhat bagaimana kegiatan sekolah setelah kami kembali ke peradaban kota.

suasana saat gebyar pendidikan

Hanya empat hari mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Jerman '10 dari Universitas Pendidikan Indonesia ini mengajar. Tapi rasanya saat perpisahan seperti kami telah mengajar bertahun-tahun. Mereka semua menangis, enggan melepas kepergian kami. Kami, filia dan teman mengajar di kelas 5, telah berhasil membuat 27 anak menangis. Anak-anak ini juga berhasil menyentuh hati kami, membuat kami terharu dan ikut menangis bersama mereka. Mereka berkata, "Kak, jangan pergi. Kalau kakak pergi nanti kita sama siapa?"

Kalimat itu kontan membuat kaget. Segitu berartinyakah kami bagi mereka? Bukan hanya murid-murid SD ini yang menahan hati kami, tapi masyarakat Bayongbong lainnya juga. Mereka menginginkan kami tetap di Bayongbong agar anak-anak mereka bisa seperti kami, mengenakan jas almamater perguruan tinggi. Agar anak-anak mereka punya motivasi belajar yang tinggi hingga bisa duduk di salah satu bangku perguruan tinggi di negeri ini.

Rasa haru menyelimuti hati kami. Enam hari keberadaan kami di Bayongbong ternyata berhasil mengisi hati para warga. Empat hari usaha kami mengajar ternyata mendapat respon yang sangat bagus dari anak-anak dan para orang tua ini, respon mereka lebih dari yang kami duga dan lebih dari yang kami harapkan. Hangat. Sangat hangat.

Banyak pengalaman hidup yang filia dapat di Bayongbong. Terlalu banyak bahkan.
Kata 'terima kasih' mungking enggak cukup untuk membalas apa yang telah mereka ajarkan.

- Filia -

 


Designed by Filia