Sunday, 22 September 2013

Celoteh Orang Biasa tentang Mimpinya

Menjejakkan kaki di Jerman sudah merupakan impian lawas yang saya punya. Sudah sedari duduk di bangku SMA ingin sekali menyambangi negara ini. Ah, kayaknya enggak mungkin deh bisa ke sana, butuh biaya enggak sedikit. Begitulah pikiran pesimis saya waktu itu. Tapi karena terlalu suka dengan Jerman, akhirnya saya menjebloskan diri ke Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Pendidikan Indonesia. Waktu itu sih mikirnya karena suka Jerman saja, belum mikir masuk jurusan ini bisa pergi ke sana. Well, enggak taunya di hari ke sekian masa orientasi saya dikenalkan dengan beasiswa yang ada di jurusan ini. Tentu saja beasiswa yang bisa memboyong mahasiswanya ke negera yang dikenal dengan sejarah nazinya itu. Di antaranya ada beasiswa yang bernama Baden-Württemberg-Stipendium dan ada beasiswa Sommerkurs (kursus musim panas) dari German Academic Exchange Service (Deutscher Akademischer Austauschdienst atau disingkat DAAD). Dan si jiwa bagian pesimis ini kembali berbisik usil, kayaknya saya enggak mungkin bisa dapat beasiswa itu.

But hey! Saya termasuk salah satu mahasiswa yang beruntung itu, berhasil menjadi salah satu peserta pertukaran mahasiswa dan mendapatkan Baden-Württemberg-Stipendium untuk mencicipi Wintersemester (semester musim dingin) selama satu semester di salah satu kota paling romantis di Eropa, di Heidelberg. Lebih beruntung lagi, saya pergi ke sana bersama seorang sahabat yang sudah nempel banget dari awal kuliah, dari semester satu. Sebut saja dia "Mbak" (Maaf, Mbak, namanya saya samarkan, ini dunia cyber yang keamanannya enggak terduga). Tuhan memang menyayangi saya, Dia selalu memberi "lebih" apa yang saya minta. Tentu saja enggak lepas dari usaha dan doa, terutama doa orang tua dan orang-orang terdekat, juga dukungan mereka.

Kalau sekarang banyak orang yang bertanya kenapa saya bisa dapat beasiswa ini, saya enggak rela kalau dibilang karena keberuntungan, kebetulan, apalagi dekat dengan dosen. Please, dosen hanya menjadi juri di seleksi awal saja, selanjutnya ya pihak Yayasan Baden-Württemberg yang menentukan siapa dan berapa orang yang berhak ke sana. Bahkan pihak jurusan (katakanlah dosen) taunya ya dari saya dan Mbak kalau kami yang dapat. Iya saya tau, masih banyak mahasiswa yang IPK-nya jauh lebih tinggi dan jauh lebih cerdas dibanding kami. Namun satu hal yang terlupakan, rezeki enggak akan pernah tertukar dan Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk hambanya. Kerasnya usaha dan amalan seseorang juga menentukan.

Mungkin orang melihat saya sebagai mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan organisasi himpunan atau sibuk dengan kegiatan paduan suara jurusan sampai lupa urusan kuliah. Di tambah saya juga orang yang suka banget main, kuliner, dan travelling. Tapi enggak begitu, kawan. Tujuan utama saya ke Kota Kembang itu untuk kuliah. Sesibuk apapun saya, ya kuliah tetap nomor satu. Hanya saja, mungkin saya bukan tipe orang yang rajin belajar di tempat terbuka. Prinsip saya sih ya, kalau ada tugas mari segera kerjakan, supaya bisa cepat santai, bisa mengurus kesibukan atau kegiatan lain dan bahkan main. Emang susah mengatur waktu, apalagi mengatur konsentrasi. Ada kalanya stres. Tapi di situ asiknya, kerasa banget kalau waktu yang dilewatkan itu enggak monoton. Banyak pengalaman, banyak teman, banyak informasi juga yang didapat.

Kita enggak harus terlihat cerdas untuk bisa mendapat beasiswa ke luar negeri, enggak harus terlihat seperti aktivis untuk bisa aktif berorganisasi, enggak harus melulu sibuk bergaul untuk bisa mengikuti alur pergaulan. Semua ada porsinya. Kerja keras, itu harus. Punya tekad kuat, itu syarat utama. Hidup itu harus punya tujuan, harus punya cita-cita, harus punya impian. Dan yang paling penting, kita harus punya keberanian dan mau berusaha untuk mencapai semua itu. Singkirkan pesimis, harus optimis, tapi awas jangan sampai jadi orang ambisius yang lupa caranya bersyukur.

-Filia-

 


Designed by Filia