Tuesday, 20 March 2012

Senyum Itu, Bibir Itu

Masih sama guratan senyum yang tergores di wajahnya. Indah penuh pesona. Senyum yang menenangkan hatiku. Senyum yang membuat nafasku sesak. Senyum yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Senyum yang membuat pembuluh darahku seakan mau pecah. Sempurna! Lekukan bibir yang membentuk senyum itu sangat sempurna. Bibir yang dulu setiap harinya berbicara padaku. Bibir yang dulu setiap harinya mengecup keningku.

Akhirnya setelah empat tahun aku bisa melihat senyum itu lagi, melihat bibir itu lagi. Aku melihat dirimu begitu jelas dan nyata di hadapanku. Tersenyum padaku. Masih dengan senyum yang sama. Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang? Masih sama seperti empat tahun lalu. Aku bahagia dan ingin melompat seperti anak kecil yang memenangkan lotre. Tapi kakiku tertahan di atas tanah yang kupijak. Ada sesuatu yang membuat lompatanku tertahan. Bibir itu, bibirmu. Aku menunggumu mendaratkannya di keningku.

Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Tidak ada kecupan di kening. Namun yang kau lakukan sekarang benar-benar membuat otakku berhenti berpikir. Berhenti berpikir tentang senyum itu dan bibir itu. Aku yakin malam ini tidak akan bisa tidur. Aku yakin kau sedang mencoba membunuhku. Membunuh kesadaranku. Membunuh rindu kita.

- Filia -

2 comments:

Ria Nugroho said...

senyuman yang dinanti lama ketika hadir pasti membawa kebahagiaan tersendiri hehehe :P

Ayas laras said...

Emh, bikin galau deh beberapa kalimat terakhirnya.. :')

 


Designed by Filia