Saturday, 8 September 2012

Potret Kecil Negeriku

Guru. Baik itu yang sudah berstatus "pegawai negeri" ataupun belum, tetap saja guru namanya. Pendidik katanya. Mereka berulang kali memperingatkan peserta didiknya untuk tidak menyontek ketika sedang ujian, ulangan atau melakukan serangkaian tes tersebut. Namun dibalik itu semua, mereka saling berbagi kunci jawaban di toilet sebuah gedung tempat diselenggarakan Tes CPNS. Demi meraih status pegawai negeri! 

Mahasiswa. Agent of change katanya. Turut andil juga sebagai social control. Perannya juga bertambah sebagai iron stock. Mereka itu pemuda. Demonstrasi dan orasi selalu digaungkan. Tolak kenaikan harga x! Berantas korupsi! Tolak RUU x! Begitulah teriakannya.Tapi berapa persen dari mereka yang memberikan solusi masalah tersebut? Berapa persen dari mereka yang mengkaji masalah negeri ini secara mendalam? Ketika mereka bergelar sarjana, mulailah mencari kerja. Lolos Tes CPNS dengan menggunakan jasa "amplop" dari orang tua. Sudah bekerja, lanjut menyalahgunakan jabatan dan memperkaya diri. Mana semangat anti-KKN mereka yang dulu?

Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini? Semua memang kembali pada masing-masing individu.

Catatan:
Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. Just random thoughts. Bila ada kesamaan cerita, itu hanya bentuk ketidaksengajaan. Semua ini murni bentuk pemikiran yang saya dapatkan melalui pengalaman melihat, membaca, mendengar dan menyaksikan berbagai potongan potret negeri ini. Saya bukan seorang anti-demo atau pembenci pegawai negeri. Bukan. Sama sekali bukan. Hanya saja, saya tidak suka pegawai negeri yang bekerja tidak sesuai "porsi" yang seharusnya. Saya juga kurang bisa menerima demo tanpa pemahaman mendalam mengenai esensi dan duduk masalah detailnya. Demo disertai solusi dan menguasai luar dalam masalahnya itu baru patut didukung. Dengan tanpa anarkisme dan tanpa polah yang tidak berpendidikan tentunya. Ingat, tulisan ini hanya argumen tanpa maksud memprovokasi. Mohon maaf bila ada yang tersinggung.

Masa depan bangsa ada di tangan pemuda.
Hidup mahasiswa!

- Filia -

Sunday, 17 June 2012

Apa Kabar?

“Apa kabar?“

Hanya dua kata itu yang dapat keluar dari bibirku.

Banyak pertanyaan dan pernyataan yang berhimpitan di kerongkongan namun tak berani kukeluarkan. Kamu tampak kurus, matamu sayu dan rambutmu berantakan. Bagian bawah matamu tampak hitam dan bengkak. Apakah kamu terlalu sibuk dengan kegiatanmu sehingga kurang tidur? Memangnya kamu sibuk apa? Sibuk mengurung diri di dalam kamar?

Pipi tembam yang dulu menggantung di wajahmu kini hilang. Pipimu sekarang tirus, ya. Bahkan garis-garis tulang pipimu terlihat tegas seperti ingin keluar dari dalam kulit. Dan bibirmu itu... Kering, pecah-pecah dan ada beberapa titik darah kering tersisa di sana. Apa selama ini kamu tidak makan dan minum? Sekarang sukses sudah wajahmu pucat seperti orang kebanyakan memakai bedak tanpa blush on. Dan... Pergelangan tanganmu... Begitu kecil dan ada luka bekas sayatan di sana. Apa yang telah kamu lakukan pada dirimu? Mau memperpendek umur dan menantang takdir Tuhan? Astaga! Bahkan betismu pun kini benar-menar menyusut. Ke mana perginya daging-daging yang menggantung di sana?

“Apa Kabar?“
Lagi-lagi hanya dua kata itu yang dapat aku katakan. Aku ragu untuk menyapamu dan bertanya panjang lebar tentangmu. Aku ragu, apakah orang di hadapanku ini benar-benar kamu? Aku sulit mengenalimu.

Lama aku terpaku menatapmu. Bukan, bukan karena aku terpesona. Tapi karena aku heran. Heran melihatmu begitu payah menerima ujian. Mana semangatmu, sayang? Mana dirimu yang tak pernah bisa diam?

Dengan segenap keberanian yang aku kumpulkan, aku pun akhirnya berkata, “Kamu tidak boleh terus seperti ini.“ Kamu, yang berada di dalam cermin, tersenyum lebar penuh semangat baru. Senyum yang kukenal. Senyumku yang dulu.

- Filia -

Monday, 11 June 2012

Our Journey in "Kota Angkringan"

Beberapa minggu lalu (Sabtu-Senin, 26-28 Mei 2012) saya dan beberapa teman kampus mendapat kesempatan menghabiskan akhir pekan di Kota Angkringan. Mungkin banyak yang sudah tidak asing dengan sebutan Kota Angkringan ini, tapi mungkin ada juga yang belum tau di mana letaknya kota ini. FYI, Kota Angringan yang saya maksud adalah Yogyakarta atau sering disebut juga Jogja. Loh, bukannya Jogja itu kota pelajar? Eits, jangan salah, sekarang Jogja dikenal juga sebagai Kota Angkringan. Angkringan berasal dari bahasa Jawa 'angkring' yang berarti duduk santai. Angkringan di sini berarti gerobak yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang terdapat di berbagai pinggir ruas jalan di Jogja, seperti Jalan Malioboro dan Jalan Pangeran Mangkubumi. Biasanya angkringan ini beratap terpal, beralaskan tikar dan beroprasi mulai sore hingga larut malam. Makanan dan minuman yang dijual bervariasi, mulai dari gorengan, sate usus, sate keong hingga wedang jahe dan kopi joss.

Perjalanan ke Jogja yang rencananya ingin dilakukan bulan Juni ini akhirnya terlaksana lebih awal, karena Juni menjadi bulan yang padat bagi kami. Ya, padat karena Ujian Akhir Semester (UAS), padat kegiatan himpunan untuk menyambut mahasiswa baru dan padat jadwal Semester Padat (SP) yang benar-benar padat. Maka ditetapkanlah akhir Mei sebagai waktu untuk berpetualang ke Kota Angkringan.

Berangkat menggunakan kereta dari Stasiun Bandung hari Jumat, 25 Mei 2012 pukul 15.30 dan sampai di Stasiun Tugu Jogja tengah malam, yang berarti sudah memasuki hari Sabtu. Selama perjalanan, banyak hal yang menarik perhatian saya, terutama pemandangan alam di luar kereta yang luar biasa indah menjalang sunset. Jujur, ini pertama kalinya pengalaman saya naik kereta. Jadi agak sedikit asing dengan berisiknya roda kereta yang bergesekan dengan rel kereta dan merasakan sensasi naik kereta yang ternyata asik. Perjalanan Bandung-Jogja ini kami isi dengan kegiatan yang membuat kereta gaduh, seperti bermain Kartu UNO, melawak, makan bersama, berfoto-ria, hingga menggosipkan orang-orang di dalam kereta menggunakan bahasa Jerman. Sisanya kami gunakan waktu untuk tidur.

Siap berangkat dari Stasiun Bandung
Sesampainya di Jogja, kami luntang-lantung di sepanjang Jalan Malioboro. Pasalnya, kami mereservasi penginapan dari tanggal 26 Mei yang berarti baru bisa check-in pukul 13.00 dan lokasinya jauh dari Stasiun Tugu. Bingung harus menghabiskan waktu sebanyak 12 jam itu di mana, apalagi saat itu tengah malam, akhirnya kami mengikuti saran seorang tukang becak untuk menyewa kamar di hotel murah di Jalan Suryatmajan, tidak jauh dari Malioboro.

Day 1

Paginya, setelah sarapan dan tubuh sudah oke untuk kembali diajak berpetualang, kami check-out dan kemudian bertolak menuju Keraton Yogyakarta untuk jalan-jalan sambil mengenal sejarah. Beruntung, ayah dari seorang teman kami punya kenalan di Jogja ditambah diantara kami ada yang sudah expert menyetir mobil dan mengenal jogja, kami pun puas mengeksplor Jogja selama tiga hari menggunakan mobil pinjaman. Dari keraton, kami pun berjalan menuju Keben. Setelah puas menjepret beberapa hal menarik, kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang tidak jauh dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Masuk keraton langsung jepreeet!
Selepas ashar, perjalanan kami lanjutkan menuju Pantai Depok Parangtritis yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari penginapan. Sore itu, agenda kami memang berburu sunset di pantai. Tidak banyak yang dilakukan di sana selain berfoto, berlari dan bermain dengan ombak karena waktu juga sudah memasuki maghrib dan perut mulai meminta jatah bensin malam. Sekitar pukul tujuh, kami melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Kidul. Sayangnya kondisi di sana sudah macet, padat dan sulit mendapat tempat parkir. Akhirnya kami pun menyerah dan memutuskan untuk berwisata kuliner saja. Tanpa banyak berdebat, mobil pun melaju menuju Jalan Ahmad Dahlan. Malam itu kami habiskan di sana, di tempat lesehan, menyantap Oseng-oseng Mercon Bu Ria yang super lezat dan mengobrol hingga lelah kemudian kembali ke penginapan untuk tidur.

Narsis di parkiran pantai duluuuu...
Lompat! Hup!
Menunggu oseng-oseng mercon datang untuk disantap

Day 2

Minggu, 27 Mei 2012. Well, salah satu teman mulai tadi malam dan seterusnya tidak bisa melanjutkan petualangannya bersama kami karena sudah ada janji dengan temannya yang kuliah di Kota Angkringan itu. Padahal dia yang lebih banyak tau tentang Jogja dibanding kami. Kami memang memiliki banyak teman yang tinggal di sini. Beruntung, diantara kami ada yang salah satu temannya bersedia ikut berpetualang dan menjadi tour guide hari itu.

Menjelang siang, petualangan kami lanjutkan menuju wisata alam di daerah Kaliurang, tepatnya Gunung Merapi. Karena terlalu asik "karaoke bersama" di dalam mobil, jadi lupa berapa jam lamanya waktu yang kami butuhkan dari penginapan menuju lokasi Merapi. Dari tempat parkir di daerah Merapi ini, kami mulai berjalan kaki mendaki jalan beraspal yang memang bisa ditempuh dengan mobil jeep dan motor khusus yang saya lupa namanya. Pendakian terhenti di halaman rumah Almarhum Mbah Marijan. Di sini banyak sekali bukti otentik yang bisa menjadi bukti sejarah beberapa tahun ke depan terkait letusan Gunung Merapi tahun 2010 silam, diantaranya motor dan mobil reporter televisi yang telah hangus. Bisa saya katakan, halaman rumah beliau ini tampak seperti museum di alam terbuka. Apa yang kami lakukan di Merapi ini? Tidak banyak. Hanya mendaki sambil mengobrol, menjepret pemandangan yang benar-benar luar biasa keren, melihat-lihat puing-puing bangunan sisa letusan, menikmati pemandangan dari Kinahrejo dan meresapi dahsyatnya alam Indonesia. Cukup lama waktu yang kami butuhkan di sana hingga akhirnya kembali ke parkiran pukul 13.30.

Akhirnya, bisa mengunjungi Merapi
Bagian dari halaman rumah Almarhum Mbah Marijan
Dari Sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Jalan Wijilan. Tau dong apa yang dicari kalau ke sini. Ya, Gudeg khas Jogja. Late Lunch menikmati Gudeg Yu Djum yang manis sambil beristirahat. Lokasinya yang tidak jauh dari Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), membuat kami membelokkan arah menuju kampus yang dulu pernah menarik perhatian saya ini. Sebenarnya, alasan utama bertandang ke UGM itu kami butuh masjid terdekat. Selepas ashar dan menjepret beberapa gambar di lingkungan Masjid Kampus UGM, kami pun bertolak menuju Taman Sari Water Castle. Namun sayangnya tempat wisata tersebut sudah tutup untuk hari itu. Terlalu sore memang, hampir pukul 15.30 kami baru sampai di sana.

Kecewa karena tidak bisa mengunjungi Taman Sari, akhirnya kami pun berbalik arah ke Alun-alun Kidul. Menjelang maghrib itu kami habiskan waktu untuk bermain-main di tengah Alun-alun. Di sana, terdapat dua pohon beringin besar. Mitosnya, siapa yang berhasil berjalan ke arah tengah diantara dua pohon tersebut dan  kemudian melewatinya dengan mulus, maka keinginannya akan terkabul. Meskipun saya tidak percaya dengan mitos tersebut, tetapi tetap mencobanya. Satu demi satu dari kami bergantian mencoba tantangan tersebut dan hasilnya tidak ada satupun dari kami yang berhasil.

Nyaris berhasil melewati dua beringin
Ini naik odong-odong atau...?
Malamnya kami tidak pergi mencari makanan berat seperti nasi dan sejenisnya karena masih merasa kenyang akibat makan siang yang terlambat. Akhirnya kami terdampar di salah satu angkringan kopi joss di Jalan Pangeran Mangkubumi. Di saat teman-teman yang lain memperpanjang waktu ngopi sambil istirahat di angkringan, saya dan seorang teman memutuskan untuk berjalan kaki sebentar melewati Stasiun Tugu dan menyeberangi rel kereta menuju Jalan Malioboro, menikmati Jogja malam hari dan mengambil beberapa gambar diri di sana. Tidak lama ponsel di dalam saku berdering. Ternyata teman-teman saya sudah ingin kembali ke penginapan dan merebahkan diri di atas kasur.

Day 3

Hari terakhir kami di Kota Angkringan, Senin, 28 Mei 2012, menjadi hari wisata sejarah dan belanja. Setelah sarapan, kami langsung check-out dari penginapan. Ransel-ransel kami telah tertumpuk rapi di dalam mobil dan siap menikmati hari terakhir di Jogja. Hanya ada dua tempat tujuan hari ini: Taman Sari dan Malioboro. Walaupun kemarin tidak sempat ke Taman Sari, akhirnya hari ini kami bisa menyambangi tempat istirahat sultan di jaman dulu itu. Hari ini tidak ada penunjuk jalan lagi karena si supir kami yang kece sudah hafal jalanan Jogja setelah dua hari menjadi 'penduduk Jogja'.

Di taman sari, kami ditemani seorang bapak yang menjadi tour guide. Selama perjalanan melihat-lihat Komplek Taman Sari Water Castle, bapak ini menceritakan sejarah yang terjadi di dalamnya. Yang paling saya ingat adalah sejarah di kolam pemandian sultan. Ada sebuah bangunan kecil namun tinggi diantara kolam sultan dan kolam para selirnya. Nah, biasanya sultan melemparkan bunga dari atas bangunan tersebut ke kolam selir, siapa yang mendapat bunga tersebut maka ia yang menemani sultan berenang-renang di kolam sultan. Lucu dan unik tradisinya. Selain cerita jaman dulu yang dikisahkan oleh si bapak, ia juga menjelaskan nama-nama dan fungsi bangunan yang ada di sekitarnya, baik itu fungsinya di jaman dulu maupun saat ini.

Ini sedikit di bawah tanah looooh
Harusnya ada sumur di bawah kami, tapi sudah ditutup
Di depan Gapura Agung (Taman Sari)
Kolam mandi Sultan jaman dulu
Lumayan lama kami berputar-putar di kawasan Taman Sari ini. Tidak terasa waktu telah menunjukkan sedikit lewat dari tengah hari. Selepas dzuhur, tujuan kami tinggal satu: Malioboro. Karena bukan akhir pekan, kami dengan mudah mendapat tempat parkir di kawasan perbelanjaan yang padat ini. Sebelum mulai hunting oleh-oleh, kami menyempatkan diri makan pecel di depan Pasar Beringharjo. Enak dan murah tapi enggak murahan. Barulah setelah makan, kami berburu oleh-oleh khas Jogja. Dari mulai baju, celana, barang-barang berbau batik, perak Jogja, hingga bakpia dan lanting. Kegiatan berburu oleh-oleh ini benar-benar menguras kantong. Maklum, namanya juga belanja.

Isi perut dulu sebelum berburu oleh-oleh
Entah ada angin apa, dari kawasan Malioboro kami pun berjalan kaki hingga ke Jalan Jenderal Sudirman. Lelah mulai terasa. Sambil beristirahat, sebagian teman pun menyempatkan diri untuk mengabadikan gambar Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 dan sekitarnya. Dari sana, kami lanjut berjalan kaki menuju taman pintar. Alasannya masih sama seperti ke UGM kemarin, butuh masjid. Pukul 17.00 berpetualang menenteng belanjaan sambil berjalan kaki ini dilanjutkan kembali ke kawasan Malioboro dengan jalan memutar, membuat kaki lelah melangkah.

Istirahat di pinggir jalan
Tanpa terasa, petualangan kami pun telah mencapai unjungnya. Akhirnya, selepas maghrib dan mengisi perut, kami langsung bertolak menuju Stasiun Lempuyangan Jogja. Di sana, seseorang telah menunggu kami untuk mengambil mobilnya kembali. Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan ber-dadah-ria, kami pun memasuki stasiun dan menunggu kereta menuju Bandung. Terhitung dari Senin, 28 Mei 2012 pukul 20.30 hingga Selasa, 29 Mei 2012 pukul 08.00 kami terkurung di dalam kereta menikmati perjalanan pulang ke Bandung sambil ngemil, mengobrol dan sebagian besar waktu digunakan untuk tidur.

Selesai sudah petualangan kami di Kota Angkringan. And now, we already miss Jogja. Kami rindu Jogja yang panas. Kami rindu Jogja yang jarang terdengar suara klakson kendaraan bermotor. Kami rindu petualangan kami. Kembali ke Bandung, kembali merasakan sejuknya Bandung yang tidak sesejuk dulu, kembali dengan segudang kegiatan perkuliahan dan himpunan. Next trip: wait for it!

- Filia -

Wednesday, 16 May 2012

Hujan, Lagu dan Kamu

Selalu ada hal menyenangkan ketika hujan turun. Angin berdesir lembut menggelitik telinga seperti kamu yang berbisik merindu. Suara rintik-rintik air menggertak hati seperti kamu yang berteriak cemburu. Dan sore itu, lagi-lagi hujan turun ketika lagu itu mengalun. Kali ini angin berdesir menghempas tirai dan rintik-rintik air menampar jendela. Itu juga seperti kamu saat ini. Dingin dan menyakitkan, tapi aku tetap suka. Aku terlanjur suka hujan, seperti apapun caranya datang pada bumi. Ketika hujan berikutnya turun tanpa sengaja lagu itu mengalun, kembali kamu dalam ingatanku tersusun. Kita kembali saling menyapa, tapi kamu tidak ingat apa-apa. Aneh. Dan aku sama sekali tidak bisa membenci hujan, tidak bisa menghapus lagu itu dan tidak bisa tidak ingat kamu.

- Filia -

Friday, 11 May 2012

Mask Party or Grill Party?

Sabtu malam kemarin, tepatnya 5 Mei 2012, diadakan pembubaran panitia P2M. Penantian lama memang, mengingat P2M dilaksanakan Januari, namun pembubaran panitianya baru Mei. But it's never too late. Acara  dengan konsep mask party berkonten grill party ini berlangsung di Lembang, di rumah seorang teman yang masih satu jurusan dan satu angkatan, sebut saja F.

Banyak cerita, dari mulai tuan rumah alias si F ini yang enggak ada di lokasi ketika kami, para tamu, udah datang, hingga malam ditutup dengan para kaum adam nonton bola bareng dan kaum hawa main UNO + Kwartet = GILA sampai sekitar pukul tiga dini hari. Entah yang nonton bola tidur pukul berapa, karena kami berada di ruangan yang terpisah. Yang jelas paginya saya dan beberapa teman langsung pulang karena enggak enak juga berlama-lama di rumah orang.

Kali ini saya enggak akan cerita panjang lebar dengan tulisan, melainkan cukup dengan beberapa foto.

Grill party sebelum mask party dimulai
Akhirnya setelah kenyang panggang memanggang, mask party pun dimulai
Beda angkatan tapi tetap keliatan sama mudanya
Menjelang selesainya mask party
Das bin ich! - It's me!

- Filia -

Saturday, 28 April 2012

Secondhand Serenade Live in Bandung

Secondhand Serenade
Untuk kedua kalinya Secondhand Serenade menggelar konser di Bandung. Konser yang digelar pada Jumat, 27 April 2012 ini dimulai pukul 19.00 dengan opening act dari Adera. Barulah pukul 20.00 John Vesely dkk menaiki panggung untuk mengguncang Bandung Convention Center (BCC), setelah sebelumnya Serenaders diajak menggaungkan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh si teteh MC.
Opening act: Adera
Berbekal dua tiket gratis pemberian dari seorang teman, saya pun berangkat dengan semangat menuju lokasi konser. Sedikit cerita tentang tiket gratis ini, awalnya saya cukup kecewa dengan digelarnya konser ini pada akhir April. Saya tidak punya uang lagi untuk hal-hal yang sifatnya hiburan seperti ini. Padahal harga tiketnya terbilang murah, Rp. 220.000, tidak ada kelas VIP, Festival atau semacamnya, karena semuanya berdiri dalam satu ruangan. Sudah banyak kegiatan yang menguras kantong di bulan ini. Kalau konser kali ini saya juga enggak nonton, berarti dua kali saya kecewa dan kehilangan kesempatan nonton Secondhand Serenade. Waktu itu saya hanya berharap akan ada kunjungan ketiga mereka ke Bandung. Well, akhir April terlalu banyak event memang. Mulai dari Deutschfest (Festival Bahasa Jerman) di kampus, pelaksanaan program pemberdayaan GEMA PENA, hingga Super Show Super Junior di Jakarta (SS4INA). Event terakhir, SS4INA, saya enggak berhasil dapat tiketnya. Sedih enggak punya tiket SS4INA, seorang teman berinisial "R" menghibur saya dengan memberikan dua tiket konser Secondhand Serenade secara cuma-cuma. Memang alasan dia memberikan tiket bukan hanya untuk mengibur saja, tapi dia berhalangan datang tanggal segitu dan tau kalau saya sudah menjadi Serenaders sejak duduk di bangku SMA kelas sepuluh. Jadi, daripada terbuang percuma, jatuhlah tiket ke tangan saya.
Tiket konser
Dengan tiket dari R ini tentu saja saya mencari partner nonton, mengingat masih ada satu tiket nganggur dan enggak tau letak pasti BCC. Dan terpilihlah seseorang berinisial "D", yang juga teman dekat saya, untuk menemani saya nonton si handsome John Vesely. Enggak dapat Super Junior, Secondhand Serenade pun enggak kalah hebat kok.

Total 18 lagu yang dilantunkan oleh John Vesely dengan tanpa terkecuali Serenaders selalu ikut menyanyi di setiap lagu yang dibawakan. Diawali dengan You and I, kemudian lanjut dengan Stranger, Maybe, Your Call, Vulnerable, Awake, Reach for the Sky, Stay Away, Like A Knife, So Long, A Twist in My Story, Let Me In, Hero, Fix You, The Last Song Ever, Broken, Fall For You, dan kemudian ditutup dengan Goodbye.
Aksi panggung John Vesely
Aksi panggung John Vesely
Dalam konser tersebut, John Vesely mengenakan sepasang sepatu pemberian salah satu fansnya. Di tengah konser, ia menangis ceritanya ketika membawakan Hero-nya Enrique Iglesias, yang setelahnya dilanjutkan dengan Fix You dari Coldplay. Serenaders serempak meneriakan 'WE WANT MORE' ketika John dkk meninggalkan panggung setelah membawakan Fix You. Dan mereka naik kembali ke panggung setelah mendengar Serenaders meneriaki nama 'SECONDHAND SERENADE' berulang kali.
John Vesely membawakan Hero
John Vesely akan membawakan Fall For You dengan piano
Sayang sekali foto-foto yang saya jepret dan beberapa lagu yang berhasil saya rekam buruk kualitasnya. Maklum, hanya menggunakan kamera ponsel (mengingat dilarang menggunakan kamera profesional), ditambah cahaya panggung yang super cerah dan posisi saya yang tidak berada paling depan. Sebenarnya sih saya bisa dibilang ada di bagian depan, hanya terhalang lima sampai tujuh orang saja dari depan. Kaki capek dan badan enggak bisa bergerak karena terhimpit juga ikut ambil bagian menyulitkan saya mengambil gambar.

Namun yang lebih disayangkan lagi adalah saya enggak bisa foto bareng John Vesely ataupun ikut meet and greet pada sore harinya. Hanya orang tertentu dan orang-orang beruntung yang bisa ikut meet and greet serta foto bareng dia. Maybe next time kesempatan itu bisa saya dapatkan.

- Filia -

Wednesday, 18 April 2012

ZiDS? Gut!

Minggu lalu, tepat 10 dan 12 April 2012, akhirnya Ujian ZiDS yang dinanti-nanti tiba juga. Ujian hari pertama, 10 April, merupakan ujian tertulis (Schriftliche Prüfung) yang terdiri dari tes mendengarkan (Hörverstehen), menulis (Schriflicher Ausdruck), membaca (Leseverstehen) dan Grammatik (Sprachbausteine).  Ujian tertulis menurut saya merupakan ujian tersulit karena jika tidak lulus ujian ini maka tidak berhak mengikuti ujian berbicara (Mündliche Prüfung) yang dilaksanakan pada hari kedua, 12 April. Dan kyaaaaaa... Saya lulus ujian tertulis kemudian melanjutkan ujian berbicara. Alhamdulillah perjuangan dua bulan terakhir dan menjaga jarak dari rutinitas organisasi serta hobi pun dibayar lunas dengan kriteria nilai hasil ujian Gut (Good atau Baik).

Buku latihan soal-soal Ujian ZiDS
Identitas tempat duduk
Hasil ujian tertulis 175.5, nilai min. ujian tertulis 135
Hasil Ujian ZiDS keseluruhan (tertulis dan berbicara) 240.5, nilai min. 180
FYI, kriteria penilaian standar untuk ujian ZiDS yaitu:
- Sehr Gut atau sangat baik (nilai: 270-300)
- Gut atau baik (nilai 240-269.5)
- Befriedigend atau memuaskan (210-239.5)
- Ausreichend atau cukup (180-209.5)
- Nicht bestanden atau tidak lulus (< 180)
Dari kelima kriteria tersebut, tentu saja jika ingin dinyatakan lulus maka minimal harus mendapat nilai 180 (ausreichend). Sangat disayangkan dari seluruh peserta yang ikut ujian di kampus UPI, tidak ada satupun yang mendapat nilai Sehr Gut. Tapi memang untuk mendapatkannya sangat sulit. Mendapatkan ausreichend saja rasanya sudah sangat bersyukur. Alhamdulillah saya termasuk satu dari lima orang yang mendapat nilai Gut :)

- Filia -

Tuesday, 20 March 2012

Senyum Itu, Bibir Itu

Masih sama guratan senyum yang tergores di wajahnya. Indah penuh pesona. Senyum yang menenangkan hatiku. Senyum yang membuat nafasku sesak. Senyum yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Senyum yang membuat pembuluh darahku seakan mau pecah. Sempurna! Lekukan bibir yang membentuk senyum itu sangat sempurna. Bibir yang dulu setiap harinya berbicara padaku. Bibir yang dulu setiap harinya mengecup keningku.


Akhirnya setelah empat tahun aku bisa melihat senyum itu lagi, melihat bibir itu lagi. Aku melihat dirimu begitu jelas dan nyata di hadapanku. Tersenyum padaku. Masih dengan senyum yang sama. Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang? Masih sama seperti empat tahun lalu. Aku bahagia dan ingin melompat seperti anak kecil yang memenangkan lotre. Tapi kakiku tertahan di atas tanah yang kupijak. Ada sesuatu yang membuat lompatanku tertahan. Bibir itu, bibirmu. Aku menunggumu mendaratkannya di keningku.

Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Tidak ada kecupan di kening. Namun yang kau lakukan sekarang benar-benar membuat otakku berhenti berpikir. Berhenti berpikir tentang senyum itu dan bibir itu. Aku yakin malam ini tidak akan bisa tidur. Aku yakin kau sedang mencoba membunuhku. Membunuh kesadaranku. Membunuh rindu kita.

- Filia -

Sunday, 18 March 2012

Berkenalan dengan GEMA PENA

GEMA PENA, GERAKAN MAHASISWA PENDIDIKAN NASIONAL. Saya bingung mau menjelaskan dan mulai bercerita dari sisi mana mengenai gerakan yang baru saya ikuti ini. Saya juga bingung bila ditanya deskripsi GEMA PENA itu apa. Menurut saya pribadi, GEMA PENA itu sendiri suatu wadah yang di dalamnya berisi pejuang-pejuang pendidikan yang sedang berusaha mewujudkan mimpinya untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Well, saya enggak bisa mendeskripsikan secara rinci GEMA PENA itu seperti apa, karena memang tidak terdefinisi. Kenapa demikian? Pertama, mungkin saya belum mengenal terlalu dalam apa itu GEMA PENA karena saya masih sangat baru dalam lingkungan ini. Kedua, deskripsi dari GEMA PENA itu sendiri sebenarnya kegiatan atau realisasi dari mimpi-mimpi kami di dalamnya. Yang jelas, tidak mudah masuk ke sini dan hanya orang-orang kuat penuh tekad yang dapat bertahan di dalamnya. Kegiatannya tentu saja tidak jauh-jauh dari pendidikan. Tapi bukan berarti pendidikan di sini hanya mengajar atau mendidik anak bangsa saja, melainkan lebih dari itu. Misalnya untuk tahun ini adalah program "BOS Watch" yang sedang digalakkan oleh GEMA PENA.

Sedikit ulasan, baru hari ini saya bisa berkumpul dan bertemu muka dengan keluarga GEMA PENA. Dari pertemuan pertama saja saya sudah mendapat kesan "Luar Biasa" terhadap orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka, kami, mau berusaha memperbaiki dan mentransfer ilmu kepada yang membutuhkan. Bukan dengan cara mengobral omong lewat demo atau mengutuki pemerintah, tapi dengan bergerak dan direalisasikan dalam perbuatan. Dari pada mengutuki kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin. Ya, begitulah beberapa deret kata yang saya ingat dari hasil "Sekolah Peradaban" siang tadi.

Tidak sabar untuk segera turun ke kampung atau desa terpencil dan mengabdi di bawah payung pendidikan. Berbagi ilmu, kemudian saling bertukar dan merasakan pengalaman hidup bersama anak-anak yang terpinggirkan oleh pemerintah yang asik memajukan Sekolah BerTARIF Internasional itu.

- Filia -

Tuesday, 13 March 2012

Ujian ZiDS


Ach, ZiDS. Zertifikat für indonesische Deutsch-Studierende. Sebulan belakangan ini dunia saya dibuat jungkir balik olehnya. Singkat saja, ZiDS adalah Sebuah sertifikat untuk mahasiswa yang menggeluti dunia bahasa Jerman yang ada di Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikat tersebut tentu saja harus mengikuti ujian terlebih dahulu. Karena ujiannya bersifat nasional (Soal dibuat sama se-Indonesia seperti halnya Ujian Nasional), tentu saja sertifikatnya pun bersifat nasional.

Awalnya, untuk mahasiswa yang menggeluti bidang bahasa Jerman, sertifikat yang harus dimiliki sebagai bentuk bahwa telah menguasai kemampuan dasar bahasa Jerman adalah ZD (Zertifikat Deutsch) yang berlakunya pun tidak hanya di Indonesia, tetapi untuk Internasional. ZD diselenggarakan langsung oleh sebuah lembaga pusat kebudayaan Jerman. Dulu ZD itu gratis, kemudian menjadi bayar setengahnya dan sekarang bayar seratus persen. Dikarenakan biaya untuk mengikuti Ujian ZD mahal (kalo enggak salah sekarang sekitar 90 atau 150 Euro silahkan dirupiahkan sendiri ya), maka dosen-dosen bahasa Jerman di seluruh Indonesia sepakat untuk membuat ujian sendiri, yang tidak memungut biaya semahal ZD namun tetap dibantu oleh pihak Jerman juga dalam pembuatan soal ujiannya. Akhirnya lahirlah ZiDS. Biaya mengikuti Ujian ZiDS berbeda di setiap universitasnya. Ada yang gratis tanpa pungutan sama sekali tapi ada juga yang bayar seperti di tempat saya kuliah. Saya juga enggak tahu kenapa di setiap universitas berbeda biayanya. Di kampus saya sendiri, untuk ZiDS ini hanya dibebani biaya sebesar 50 ribu rupiah dengan masa berlaku sertifikat seumur hidup dan sudah termasuk kelas persiapan ujian beserta buku latihannya. Nah, selain berbeda biaya, di setiap universitas juga berbeda masa berlaku sertifikatnya. Jangan tanya kenapa, karena saya juga belum tau alasannya.

Tentu saja Ujian ZD tingkat kesulitannya jauh lebih menantang bila dibandingkan dengan Ujian ZiDS yang akan saya ikuti nanti. Meskipun begitu, tetap saja saya tidak tenang. Emang sih, tidak lulus ZiDS masih bisa ikut tahun depan. Tapi saya ingin sekali ikut langsung lulus, enggak mau ada kata mengulang.

Dan tadi sore di kelas persiapan ZiDS, seperti biasa mengerjakan soal-soal latihan dan hasilnya cukup memuaskan. Saya berharap ketika Ujian ZiDS nanti juga nilai saya minimalnya sama seperti tadi. Pulang dengan perasaan lega dan yakin pasti bisa lulus ZiDS itu membuat saya lupa kalau sebenarnya perut sudah keroncongan. Sesampainya di tempat kos, sebuah SMS masuk. Sebuah SMS dari seorang teman di kampus yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ZiDS, tapi isinya sangat menggembirakan. Di situ tertulis bahwa saya lolos seleksi wawancara GEMA PENA. Apa itu GEMA PENA? Next time saya ceritakan.

Mohon doanya mudah-mudahan saya lulus ZiDS dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan ya, teman-teman Blogger!

- Filia -

Thursday, 8 March 2012

Happy International Women's Day!


Happy International Women's Day to all the ladies out there! Hope that the future for all women is bright, equal, safe and rewarding. Know that you are beautiful and that you deserve nothing but the best :)

- Filia -

Sunday, 26 February 2012

Menulislah!

Menulis itu memang suatu kebutuhan primer bagi saya. Niat mau hiatus sebulan dan fokus untuk Ujian ZiDS (Zertifikat für indonesische Deutsch-Studierende) pun tetap aja engga bisa lepas dari blog. Oke, kein Problem. Saya juga engga mau blog ini jadi terbengkalai lagi seperti semester kemarin.

Sempat tadi sebentar blogwalking ke blognya teman-teman blogger dan membaca sebuah postingan di blog Menapak Perjalanan. Ternyata postingan itu diambil dari blognya Tere-Liye. Bukan menyentuh sebenarnya isi postingan itu, hanya saja membuka pikiran kita untuk menulis. Berikut ini adalah postingan dari Tere-Liye.

Judul asli: menulislah
Oleh: Tere-Liye

menulislah, karena yakin tulisan kita bisa merubah.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menemani.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di salah-satu gedung tinggi, apartemen2, padatnya kota hongkong, di sebuah kamar sempit, lelah setelah bekerja sepanjang hari, dimarahi majikan, kangen negeri sendiri, ada seseorang yg tertawa, menangis, tiba2 merasa begitu bersemangat, memiliki inspirasi, setelah membaca tulisan kita. salah-seorang saudara kita yg jadi TKW. blog, MP, notes kita menjadi penghiburan.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di kolong jembatan, kota yg panas, tanah dgn onta dan korma, di balik dinding kardus. lelah setelah berminggu terkatung menjadi imigran tdk diinginkan, ada seseorang yg tertawa, menyeka pipi, buncah oleh pengharapan, setelah membaca tulisan kita. salah seorang saudara kita yg jadi buruh imigran di arab, terusir seperti gelandangan, tdk ada yg mau mengurusi. blog, MP, wordpress, notes kita menjadi teman.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi, ibu2 buronan besar itu, yg hampir dua tahun minggat, bersembunyi di negeri orang, selalu melepas kerinduan atas tanah air dari rumah kontrakannya, dengan membuka blog, MP, wordpress, notes kita. bahkan tdk sabaran kapan cerbung kita akan bersambung, hendak menyapa takut ketahuan lokasinya.

menulislah, dgn keyakinan bahwa itu bisa merubah, menghibur dan menemani. jangan pedulikan jumlah komen, jumlah like, jumlah pengunjung. menulislah! karena dunia ini akan jauh lbh baik jika semua orang pintar menulis--bukan pintar bicara.

menulislah!

Jadi, tunggu apa lagi?
Menulislah!

- Filia -

Wednesday, 8 February 2012

Menjadi Bagian dari Dusun Pasarean


Pernah terpikir untuk tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota? Dalam benak saya, sering muncul keinginan untuk tinggal di sebuah tempat yang benar-benar jauh dari kebisingan jalan raya dan hiruk pikuk masyarakat modern dalam jangka waktu tertentu. Pernah sekali saya tinggal di Kampung Bayongbong di daerah Ciwidey, Bandung, dalam kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) tahun 2011 yang waktu itu mengangkat tema Memasyarakatkan Mahasiswa. Namun kampung yang dikelilingi kebun teh tersebut tidak cukup terpencil dan tradisional bagi saya, karena masih bagian dari daerah wisata yang sering dilewati kendaraan mewah.

Tahun ini, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Pendidikan Indonesia atau yang biasa disebut Deutschstudentenverband (DSV) kembali melaksanakan kegiatan P2M. P2M merupakan salah satu program kerja tahunan DSV yang selalu dilaksanakan di desa-desa yang sulit dijamah publik. Pada P2M tahun ini, P2M 2012, diangkatlah tema 'Membangun Jiwa Masyarakat Mandiri dan Berwawasan' yang dilaksanakan pada Selasa - Minggu, 24-29 Januari 2012 di Dusun Pasarean, Desa Karangnunggal, Cibeber - Cianjur.

Dusun Pasarean tidak dapat dijangkau oleh transportasi umum. Selain itu, lokasinya sangat jauh dari Alun-alun Cibeber, apalagi dari Kota Cianjur. Lingkungan alam sekitar yang masih didominasi sawah dan pepohonan membuat dusun ini terlihat hijau. Cuaca panas pun tidak begitu terasa karena angin sering menyapu daerah ini, mengingat letaknya yang berada di lereng bukit-bukit kecil. Rumah-rumah di sini pun sebagian besar masih berbentuk rumah panggung dengan lantai anyaman bambu atau papan-papan kayu yang ditutupi tikar diatasnya. Tidak ada kemacetan di daerah ini, tidak banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang, paling hanya satu dua motor milik warga desa setempat. Yang disayangkan adalah kondisi air yang menurut saya pribadi kurang bisa dibilang bersih dan juga tidak tersedianya MCK di semua rumah.

Dari segi lingkungan sosial, warga di Dusun Pasarean sebagian besar mata pencahariannya adalah petani. Untuk kondisi anak-anak di desa ini, banyak dari mereka yang putus sekolah dan menikah di bawah umur. Anak-anak disekolahkan oleh orang tuanya hanya bertujuan agar bisa baca-tulis saja. Ini berarti kesadaran terhadap pendidikan masih sangat kurang. Dari anak-anak yang saya temui, banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga broken home. Mereka tinggal bersama nenek atau kakeknya, sedangkan orang tuanya bercerai dan entah ke mana. Pekerjaan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri bagi warga di dusun ini juga dianggap menjanjikan. Banyak perempuan yang mengambil pekerjaan ini namun kemudian pulang dalam keadaan hamil atau membawa anak. Entah itu anak siapa (ngertilah maksudnya).Well, terlepas dari berbagai masalah sosial tersebut, warga Dusun Pasarean memang benar-benar menerima kami semua dengan tangan terbuka.

Pertama tiba, kami disambut hangat oleh siswa-siswi dan guru-guru SDN Karangnunggal. Dengan dihadiri oleh beberapa perangkat Desa Karangnunggal dan Dusun Pasarean serta guru-guru SDN Karangnunggal, kami membuka kegiatan P2M 2012 di sana. SDN Karangnunggal ini juga merupakan salah satu sekolah yang diajar oleh tim pengajar P2M selama kami melaksanakan kegiatan ini. Sayangnya, tahun ini saya tidak bisa mengajar seperti tahun kemarin, karena tergabung dalam kepanitiaan inti, seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Selain di SDN Karangnunggal, tim pengajar P2M juga mengajar di SDN Bunisari. Jika ke SDN Karangnunggal ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan biasa yang ada di desa dan membutuhkan waktu ± 30 menit dari rumah inap, maka untuk ke SDN Bunisari kami harus melalui jalan 'galengan sawah' dan menyebrangi sungai kecil dengan waktu sekitar 15 menit lamanya, tentu saja dengan berjalan kaki.

Dalam kegiatan P2M 2012, kami lebih memberikan perhatian khusus pada bidang sosial. Agenda acara yang telah direncanakan dan disusun sedemikian rupa tentu saja harus terlaksana dalam waktu enam hari lima malam. Di bidang pendidikan misalnya, selain Kegiatan Belajar Mengajar, ada juga Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan kegiatan nonton bareng film yang sifatnya inspiratif. Rangkaian kegiatan di bidang pendidikan ini juga ditutup dengan acara Gebyar pendidikan, yaitu sebuah acara lomba antarsekolah dasar. Berbeda halnya dengan kegiatan di bidang keagamaan yang sasarannya lebih luas. Mulai dari mengkondisikan shalat berjamaah lima waktu, pengajian ibu-ibu, pengajian bapak-bapak, silaturrahim akbar, mengajar ngaji anak-anak hingga mengadakan lomba da’i cilik. Sedangkan untuk di bidang sosialnya sendiri, kami mengadakan kerja bakti, merenovasi pos kamling, bazaar pakaian dan sembako, serta yang paling besar adalah membangun jembatan guna memperlancar mobilitas siswa ke sekolah, yaitu ke SDN Bunisari. Kegiatan di bidang sosial tersebut dilakukan oleh warga dan panitia sehingga kami dapat lebih berbaur dengan warga setempat.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut, masih ada kegiatan lainnya. Misalnya workshop mendaur ulang barang-barang bekas, penyuluhan kesehatan, sepak bola antara warga dan panitia, serta ronda malam yang dilakukan oleh panitia laki-laki bersama bapak-bapak setempat. Seluruh kegiatan yang diagendakan tentu saja melibatkan warga yang ada di Dusun Pasarean, baik anak-anak, remaja maupun ibu-ibu dan bapak-bapak.

Banyak hal yang saya pelajari dari kegiatan P2M kali ini. Bersyukur, sabar dan ikhlas sih udah jadi pelajaran wajib di sini. Hal lain yang dapat saya petik diantaranya berani berbicara. Kemampuan bahasa Sunda yang pas-pasan tidak menjadikan saya canggung untuk bergaul dengan warga setempat. Mengelola emosi, meninggalkan ego, mendengarkan orang lain, memupuk percaya diri juga beberapa pelajaran yang saya ambil. Yang paling penting dan paling sulit adalah mengatur orang. Segala sesuatu di lapangan yang berkenaan dengan teknis acara menjadi tanggung jawab saya, termasuk mengatur panitia dan warga dalam setiap acara yang ada. Jujur, saya orang yang susah diatur dan tidak mau mengatur. Tapi ini tugas dan tanggung jawab. Kalo kata Doraemon sih akhirnya ya "Apa boleh buat".

Capek, lelah. Itu pasti. Tapi semua itu terobati dan tidak terasa karena rasa kebersamaan dan saling memiliki yang ditawarkan teman-teman panitia. Dan yang paling penting rasa nyaman serta 'dianggap keluarga' oleh warga yang membuat saya dan teman-teman panitia betah di dusun ini. Akhirnya perjalanan ini ditutup dengan pecahnya isak tangis dari kami dan warga. Di antara kami masih ingin bersama dan berbagi. Ada rasa tidak ingin berpisah saat kami akan kembali ke kehidupan bising Kota Bandung. Ya, walaupun kurang dari seminggu kami menumpang dengan niat mengabdi di Dusun Pasarean, namun kami telah dianggap bagian dari mereka, pun sebaliknya. Mereka, warga Dusun Pasarean, tidak hanya menjadi keluarga bagi kami, tapi juga menjadi guru dan teman yang bisa saling berbagi pelajaran hidup.

Buat yang mau liat foto-foto kegiatannya, bisa diliat di sini.

- Filia -

Tuesday, 31 January 2012

Review Liburan

Bagi kebanyakan mahasiswa yang tinggal di kota orang, libur semester adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Alasannya tentu saja karena bisa pulang ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga. Begitu juga dengan saya. Tapi seperti biasa, libur semester ganjil bagi saya ya bukan liburan. Sama seperti tahun sebelumnya, libur semester ganjil kali ini juga saya tidak bisa pulang ke Serang karena harus berurusan dengan kegiatan kampus yang cukup menyita waktu.

Kurang lebih sekitar dua minggu mendapat jatah libur dari universitas. Minggu pertama liburan, saya gunakan untuk latihan Paduan Suara Jurusan Bahasa Jerman (Deutschstudentenchor – DSC). Tepat Sabtu, 21 Januari 2012 kami pun menggelar konser di Centre Culturel Français de Bandung dengan tema Neujahrskonzert (Konser Tahun Baru) sekaligus turut merayakan hari Perancis-Jerman. Dalam konser ini, sekitar 20 lagu-lagu klasik Jerman ditambah sebuah lagu keroncong Indonesia yang dibahasa Jermankan berjudul Bengawan Solo kami bawakan. Konser ini juga merupakan konser kedua DSC setelah sebelumnya menggelar konser pada 30 Juni 2011 dengan tema Ein kleines Konzert.

Salah satu foto di back stage saat sela-sela konser

Liburan pada minggu berikutnya, saya gunakan untuk mengabdikan diri pada masyarakat atau lebih dikenal dengan nama Pengabdian Pada Masyarakat (P2M). P2M merupakan salah satu kegiatan besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman (Deutschstudentenverband – DSV) Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan ini diadakan setahun sekali. Untuk tahun 2012 ini, kami memilih Cianjur sebagai pusat perhatian untuk mengabdikan diri. Tepatnya di Dusun Pasarean, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

Kegiatan yang dilaksanakan Selasa-Minggu, 24-29 Januari 2012 ini memang panitia intinya dari angkatan saya, angkatan 2010, dengan panitia tambahan dari angkatan 2011 dan Steering Committee (SC) dari angkatan 2009 dan tamu undangan dari berbagai angkatan bahkan alumni hingga dosen senior. Well, saya sendiri di kepanitiaan inti kebagian jadi koordinator divisi acara. Kebayang enggak gimana jobdesknya? Repot dan riweuh bukan main. Memang selama saya masuk dalam kepengurusan Badan Eksekutif - DSV setiap ada acara udah langganan masuk divisi acara, tapi belum pernah menjabat sebagai koordinator (ya iyalah, kan tahun kemaren masih angkatan paling bontot di jurusan).

P2M tahun lalu, P2M 2011, tempat saya di divisi HUMAS. Awalnya, P2M tahun ini saya ingin di divisi pendidikan dan memang disetujui oleh ketua pelaksana (ketuplak) dengan jabatan koordinator divisi pendidikan. Saya senang dengan berbagai hal yang berbau pendidikan, jadi saya juga senang mendapat tempat di sini. Tapi begitu fiksasi kepanitiaan inti, saya dipindahkan ke divisi acara berdasarkan rekomendasi dari SC, ketuplak dan teman-teman panitia lain. Argumen penolakan dari saya didengar tapi tidak diterima. Sialnya, forum setuju 100%. Akhirnya saya mengalah dan menyetujui keputusan forum. Enggak tau kenapa bisa nerima juga, mungkin naluri hati saya bilang ‘oke’ dengan yakin kalau saya bisa.

Ya, dua kegiatan tersebut memang dua kegiatan yang mendominasi liburan saya kali ini. Melelahkan tapi juga memuaskan. Satu hal yang bikin dada saya sesak karena kegiatan-kegiatan tersebut. Lebih tepatnya mungkin karena persiapan yang sangat menyita waktu. Hal-hal tersebut membuat IP saya semester ini menukik keren. Ya, IP saya seperti flying fox. GREAT! Tapi menyesal juga enggak ada gunanya. Semester depan harus bisa dapet IP 4 deh ya hahaha. Satu kalimat yang saya ingat ketika hasil belajar selama satu semester ini berantakan, “kita harus bisa membedakan mana yang seru dan mana yang penting” (dikutip dari ‘Hari untuk Amanda‘). Sepertinya kemaren itu saya belum bisa membedakan seru dan penting.

Lalu, bagaimana dengan P2M 2012 itu sendiri?
Tentu saja banyak cerita, dari yang bikin senyum, bikin ketawa, bikin terharu sampai yang bikin nangis dan ngebatin. Tunggu postingan selanjutnya! ; )

- Filia -

Sunday, 1 January 2012

Falling Slowly

Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Glen Hansard & Markéta Irglová. Lagu yang berjudul Falling Slowly ini merupakan Original Soundtrack dari Film 'Once' (2006) yang diperankan juga oleh dua penyanyi tersebut. Lagu lama memang, tapi asik di telinga. Dengerin dan nyanyiin yuk!


I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You've made it now

Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing along

- Filia -

 


Designed by Filia