Monday, 14 December 2009

Tawa Kenistaan

Tak terbayang pisau itu akan menyayatku lagi
Mengirisnya hingga melumpuhkanku
Merenggut sisa-sisa kebahagiaan yang kupunya
hahahaha
Seperti dementor saja!

Tawa.
Itukah yang tak kau suka dariku?
Senyum.
Itukah yang membuatku hina di matamu?

Tangan-tangan pucat inferi mencengkeram leherku
Menaburi guguran mawar nan harum
Di antara berkas sinar mentari

Kemudian malaikat mendekapku erat dan berkata,
"Tersenyumlah, Sayang...," Lirihnya padaku.

Tak tahukah engkau, Wahai malaikatku?
Aku selalu tersenyum, tertawa bahkan
Hah!
Semua orang pun tau
Dalam keremangan malam pun mereka dapat melihatnya

Ya, malam..
Malam indah dipenuhi serakan tulang belulang kenistaan
Malam damai berceceran darah keagungan
Malam yang membuaiku dengan insomnia
Membuatku tersenyum dalam selimut kabut yang mencekam

Hahahaha
Tertawa bahagia
Menari-nari diiringi jerit tangis dari kalbu
Di tepian lembah ngarai nan terkutuk
Bersama dendang dari kepak sayap kelelawar

Tetes-tetes buih kehampaan menjalari lukaku
Jeritku terkikis
Terbelenggu di tengah kerongkongan yang tercekik
Untuk apa aku dilahirkan Tuhan?

-Filia-

No comments:

 


Designed by Filia